|
ANDRIAS WIJI SETIO PAMUJI
Penemu Reaktor
Biogas
Di kalangan peternak sapi perah, terutama di Jawa
Barat, membuat biogas dari kotoran sapi tengah menjadi kesenangan baru.
Apalagi dalam kondisi persediaan bahan bakar minyak yang tidak menentu dan
harganya terus melaju seperti sekarang.
Untuk itu, menghasilkan dan memanfaatkan gas hasil
kerja sendiri merupakan kebanggaan tersendiri sehingga para peternak tidak
perlu lagi membeli minyak tanah, gas elpiji, atau kayu bakar.
Jangan heran kalau mendatangi peternakan di daerah
Lembang dan Cisarua, Kabupaten Bandung, Anda akan menemukan kantong plastik
ukuran 5.000 liter dalam sebuah lubang dan kantong lainnya ukuran satu
meter kubik mengapung di bawah atap yang disambungkan dengan pipa-pipa
plastik.
Perlengkapan sederhana yang biasa terdapat dekat
kandang sapi itu sebetulnya reaktor dan penampung biogas. Kotoran sapi yang
sudah dicampur air dengan ukuran satu banding satu itu diubah menjadi gas.
Gas itu dialirkan pada reaktor. Setelah menjadi gas kemudian dialirkan pada
penampung gas. Melalui selang plastik, gas dialirkan lagi ke kompor gas di
dapur untuk memasak.
Percobaan membuat reaktor sederhana dari plastik ini
sudah dilakukan oleh Andrias Wiji Setio Pamuji (27) pada tahun 2000, saat
ia masih kuliah tingkat III di Jurusan Teknik Kimia Departemen Teknik Industri
Institut Teknologi Bandung (ITB).
Namun, Andrias baru memasarkannya pada 9 April 2005
setelah menyempurnakan percobaan-percobaannya. Reaktor biogas dari plastik
ini sebelumnya pernah menang dalam Lomba Kreativitas Mahasiswa tahun 2002
yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional.
Andrias sudah lama mengetahui bahwa kotoran sapi bisa
dijadikan gas. Namun, kesempatan membuktikan hal tersebut baru kesampaian
saat ia kuliah. Saking penasaran, ia membawa kotoran sapi yang sudah
dicampur air dari sebuah peternakan. Kotoran sapi itu ia bawa dengan
jeriken ukuran lima liter.
Sampai di rumah indekos, jeriken tetap ditutup agar
terjadi fermentasi pada kotoran sapi. Setelah sebulan, jeriken dibuka dan
di atas lubang jeriken dipasang plastik. Plastik langsung mengembang.
Andrias yang berasal dari Desa Ngrendeng, Kecamatan
Sine, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, itu segera mencari pucuk bolpoin yang
terbuat dari logam. Pucuk pulpen ini ditusukkan pada plastik dan keluarlah
gas. Ia menyulutnya dengan korek api. ”Ternyata betul, kotoran sapi
bisa jadi gas dan bisa dibakar,” ujarnya.
Andrias terus memodifikasi peralatan dengan
menggunakan uang bantuan dari teman- temannya. Percobaan demi percobaan ia
lakukan untuk bisa menghasilkan reaktor dan penampung gas berharga murah
dan berkapasitas mencukupi untuk kebutuhan rumah tangga.
Sampai akhirnya, dari percobaan demi percobaan, ia
menghasilkan reaktor dari plastik dengan tebal 250 mikron serta menciptakan
kompor untuk jenis gas metana.
Ia baru memasarkan reaktor tersebut pada April 2005.
Saat itu dirasa tepat sebab harga bahan bakar minyak (BBM) terus naik.
”Saya sudah memprediksi bahwa BBM akan mahal. Tapi kalau dulu, harga
BBM alternatif masih lebih mahal dari BBM yang ada. Sulit bagi masyarakat
untuk berpaling,” kata Andrias.
Kini reaktor biogas buatannya sudah digunakan oleh 66
peternak sapi perah di Subang, Bandung, Garut, Tasikmalaya, dan Padang,
Sumatera Barat, menyusul Bali, Jawa Tengah, dan Lampung. Sebetulnya, segala
kotoran binatang bisa digunakan, termasuk kotoran manusia. Hanya saja
teknologi terbentur oleh asas kepantasan dalam masyarakat. Sampah organik
juga bisa dipakai sebagai bahan pokok pembuatan gas. Reaktor bisa
ditempatkan di tempat penampungan akhir (TPA) sampah. Pada TPA yang
mendapat kiriman sampah sebanyak 5.000 meter kubik per hari bisa dihasilkan
gas sebanyak 25.000 meter kubik per hari atau setara dengan 31,25 juta watt
listrik. Itu juga bisa mengalirkan listrik bagi sekitar 2.500 rumah tangga.
Andrias menjual reaktornya dengan harga Rp 1,5 juta, termasuk pemasangan.
Keseriusan dalam kerja sama penting karena penjualan
reaktor biogas harus diikuti dengan layanan purnajual yang memuaskan agar
masyarakat tidak merasa tertipu. ”Kalau pemakai merasa banyak keluhan
dalam menggunakan reaktor biogas, mereka tidak akan percaya bahwa kotoran
sapi betul-betul bermanfaat,” ujar Andrias. Ia mengatakan, sampai
kini gas yang dihasilkan belum dapat dikemas dalam tabung karena gas dari
kotoran sapi adalah jenis metana (CH4). Sementara gas yang dikemas dalam
tabung merupakan gas yang bisa dicairkan, yang berasal dari jenis butana
(C4 H10) dan pentana (C5 H12). Gas yang bisa dicairkan bisa masuk dalam
tabung dengan volume jauh lebih banyak. Namun, metana tidak bisa demikian.
”Tapi biasanya dalam dunia teknologi, segala
sesuatu akan terus berkembang. Mudah-mudahan ada dana untuk meriset lagi
agar tidak hanya peternak sapi yang bisa merasakan manfaat biogas
ini,” kata Andrias.
Sejauh ini, bagi masyarakat yang ingin menikmati
biogas dari kotoran sapi dan bagi peternak yang ingin menjual biogasnya
kepada tetangga baru bisa dilakukan dengan sistem jaringan gas yang
dihubungkan dengan selang-selang, seperti penggunaan gas pada zaman dahulu.
Untuk menghitung pemakaian, digunakan meteran.
Andrias adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Anak
petani ini sering penasaran dan ingin membuktikan teori-teori yang
didengarnya dengan cara melakukan percobaan. Waktu kecil ia pernah membuat
listrik dan perahu motor mainan dengan penggerak kincir angin. Kincir angin
dibuat dari pemutar kaset dalam tape. Andrias juga senang bertani dan
beternak. Tanaman dan hewan ia rawat dengan kasih sayang. Ini adalah ajaran
dari ibunya. Sejak kecil Andrias sering membantu orangtuanya bekerja di
sawah. Ibunya sering menunjukkan kepadanya sawah-sawah yang subur dan
kering. ”Sawah yang hijau dan subur itu setiap hari ditengok petani.
Kalau yang coklat itu jarang ditengoki petaninya,” kenang Andrias
menirukan kalimat ibunya. Perkataan itu mengartikan, sawah yang sering
ditengok akan lebih terawat. Perawatan itu adalah cermin dari ketekunan.
Tekun, itulah yang menjadi prinsip hidup Andrias.
Suami dari Mila Juliani Perangin-angin (24) dan ayah
dari Aldo Adicipta Yanuar (7 bulan) ini pun membuat dan memasarkan reaktor
dengan ketekunannya. Meskipun sudah 66 orang menggunakan reaktornya,
keuntungan materi belum ia rasakan. ”Yang penting masyarakat bisa
menerimanya dulu,” kata Andrias menekankan. (Yenti Aprianti) ---
Sumber: Harian Kompas, 15 Agustus 2005.

sebelumnya
| awal | berikutnya
|