Ragam Pustaka

LEGENDA MAKHLUK TERPILIH

Suatu ketika, seorang guru sufi tengah mengajar para santrinya di muka kelas. Seperti lazimnya dalam memberikan penjelasan, beliau juga kadang-kadang menulis sesuatu di papan tulis. Sewaktu menorehkan garis lurus dengan kapur tulis, beliau menghapus sebagian garis sehingga tidak lagi bersambung, seolah-olah merasa garis yang dibuatnya terlalu panjang, di lain waktu terlalu pendek, sehingga beberapa kali sang guru sufi terlihat menghapus bagian-bagian garis tersebut. Di lain tempat, seorang petani sedang tekun menyelesaikan pekerjaannya di sawah. Saat itu beliau tengah membereskan dan merapikan galian saluran air sawahnya agar dapat mengalir dengan lancar. Namun kemudian mulai timbul masalah ketika beberapa kali gundukan tanah di samping kanan-kiri galian seperti terbongkar sehingga air yang seharusnya mengalir mengikuti alur galian menjadi bocor kemana-mana. Dengan sabar, beliau menutup yang bocor itu dengan gundukan tanah. Tetapi setiap diperbaiki yang satu, yang di depan bocor, ketika diperbaiki yang di depan yang di belakang giliran bocor. Demikian terjadi beberapa kali, akhirnya beliau memungut sekepal lempung basah dan melemparkannya. Pada saat yang sama, sang guru sufi yang tengah mengajar di depan kelas dan saat itu sedang beberapa kali asyik menghapus beberapa bagian goresan garis yang dibuatnya tiba-tiba mendapat timpukan lempung basah. Para santrinya yang sedang serius mengikuti ajarannya tentu saja terkaget-kaget menyaksikan datangnya lemparan lempung yang tidak diketahui asal-usulnya itu. Namun sang guru sufi terlihat diam saja, membersihkan bekas timpukan lempung, dan ... tidak lagi mengotak-atik guratan garis tadi.

*****

Sang Guru Sufi berkunjung ke rumah seorang temannya yang menyambutnya dengan gembira. Dan sebagaimana lazimnya, tuan rumah pun menyuguhkan minuman. Beliau menuangkan poci tehnya ke cangkir si tamu, sampai terdengar bunyi kucuran airnya. Namun kenyataannya tak ada air teh setetes pun yang mengisi ke cangkir. Si tamu menukas, “ah, memang nasib saya yang tidak dapat air”. Kebetulan waktu itu, tuan rumah juga baru memasak ayam goreng dan lalu menyuguhkannya ke si tamu untuk dicicipi. Kali ini, ketika si tamu mau mencomot sejumput daging ayam goreng itu, terdengar bunyi “keok..!” dari arah si ayam goreng, sehingga beliau tidak jadi mengambilnya. Lalu ketika diulanginya lagi untuk mencomotnya, terdengar lagi suara berkeoknya ayam. Akhirnya beliau berhenti dan berkata ke sang tuan rumah, “lagi-lagi nasib saya yang jelek tidak dapat menikmati ayam gorengmu, mohon diambilkan tuan rumah saja”, sambil tangannya menepuk pundak si tuan rumah. Tapi kini giliran si tuan rumah yang sewaktu mau beranjak untuk mengambilkan ayam goreng tamunya ternyata tidak dapat terlepas dari kursinya. Keduanya lalu saling tersenyum dan berjabatan tangan.

*****

Seorang murid suatu ketika bertandang ke rumah Guru Sufinya. Ketika ditanya khabarnya oleh Sang Guru, diceritakan bahwa istrinya sedang sakit, lalu sekalian minta bantuan doa Sang Guru untuk kesembuhannya. Sang Guru lalu mempersilakan si murid untuk mengambil air di sumurnya lalu dimasukkan ke botol bekas air mineral yang kebetulan dibawa untuk diberikan doa sebagai media penyembuhan. Beberapa saat kemudian si murid pamit pulang, kebetulan melewati rumah seorang Guru Sufi lainnya, yang juga adalah gurunya. Lalu bermaksud sekalian berkunjung. Sang Guru ini bertanya pula tentang khabarnya dan diceritakan lagi tentang istrinya yang sedang sakit. Ternyata sama dengan guru sebelumnya, Sang Guru ini juga menyuruh si murid mengambil air di sumur rumah beliau, diisikan ke botol bekas air mineral yang dia bawa. Karena si murid cuma membawa satu botol, tapi tidak mau berterus terang bahwa sebelumnya sudah mengisinya dengan air dari guru yang lain, ia hanya mengatakan bahwa ia sedang tidak punya botol kosong. Sang Guru (tanpa melihat isi tas muridnya) menukas kalem, “Itu botol air yang kamu bawa dalam tas buang saja airnya, isi dengan air sumur sini ...”.

sebelumnya | awal | berikutnya