|
SAVERINUS NURAK
Penemu Mesin
Pompa Tangan Berkekuatan Tinggi
Pendidikan terakhirnya ’cuma’ Sekolah Guru
Bantu (SGB). Tapi dari tangannya, telah lahir mesin pompa tangan berkekuatan
dahsyat. Mesin yang mampu menyedot air dari dasar jurang sedalam 7-10 meter
dan memuncratkannya ratusan meter. Mesin yang hak patennya telah diakui di dunia
internasional atas bantuan LIPI tahun 1994 dengan pengarahan lembaga hak
paten di Den Haag, Belanda. Mesin pompa tangan itu juga telah diberi merek ”S
Nurak”.
”S Nurak” bukan Cuma nama
merek, tapi juga nama penemunya, Saverinus Nurak. Lebih dikenal dengan nama Guru
Sepe, Nurak memang pantas mendapat pujian. Ia mewakili orang-orang yang tak
mau menyerah pada kekerasan alam. Alam yang tidak ramah, yang membuat
penduduk negrinya turun-temurun sulit memperoleh air minum.
Natawulu, begitu nama kampung kelahiran Guru Sepe,
tumbuh diantara tebing dan jurang dalam. Seperti di banyak kampung lain di
Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), penduduk Natawulu –-yang
terletak di desa Nita-kolang, kecamatan Nita, 20 km arah selatan Maumere,
Kabupaten Sikka—harus mencari sumber air pegunungan di dasar kaki tebing.
Inilah yang kemudian mengilhami Guru Sepe.
”Sejak masuk SR (sekarang
SD), saya seolah terus diusik pergulatan, bagaimana caranya air dari dasar
kaki tebing bisa disedot dan dinaikkan hingga kampung”, kenang pria dengan
tujuh anak dan tiga cucu itu, yang tinggal di jalan Egon, kelurahan Kabor,
Maumere.
Obsesinya semakin memuncak ketika memasuki SGB
(sejenis kursus pendidikan Guru bagi tamatan SD untuk mengatasi kesulitan
tenaga guru dalam waktu cepat) tahun 1950-an. Pelajaran di sekolah ketika
itu antara lain mempertajam bakat seninya. Sejak itu pula Guru Sepe mematri
motto pendorong semangat dalam dirinya: ”Hanya melalui seni dan
teknologi saya bisa lebih sejahtera dan menjadi orang termashyur!”.
”Posisi kampung yang kesulitan air
serta motto itu memberi saya inspirasi untuk berkarya”,
tutur Guru Sepe. Dari inspirasi itu, ia memutuskan untuk merancang mesin
pompa tangan.
Lahir di Natawulu, 17 Juni 1936, Saverinus Nurak
sebenarnya hanya sekitar tujuh tahun bekerja sebagai guru, terhitung sejak
tamat SGB tahun 1957. Sebelum berhenti sebagai guru tahun 1964, sejak 1961
ia sudah mengawali karyanya dengan mulai merancang mesin pompa khusus yang
menjadi obsesinya.
Sebelum mulai berkarya pada awal tahun 1960-an itu,
Guru Sepe pernah mampir di sebuah toko terkenal milik Amun di Maumere. Ia
bertanya ke pemilik toko apakah ada mesin pompa tangan dengan daya dorong
sampai 1.000 m. Pemilik toko menanggapinya dengan jawaban menantang.
Katanya, mesin seperti itu hanya mungkin kalau pesan khusus atau buat
sendiri!
”Saya memang sempat ciut
dengan jawaban itu, tapi tidak sampai memupuskan niat untuk berkarya. Saya
yakin ilmu di dunia ini tidak mungkin digarap habis, karenanya saya harus
terus mencobanya”, tuturnya.
Ternyata perjuangannya membutuhkan waktu lama. Bentuk
pompa yang sekarang baru dicapai antara tahun 1983-1986 atau lebih 20 tahun
sesudah mulai mencoba. ”Bentuk yang sekarang juga sebenarnya
masih harus terus diuji coba hingga mencapai kesempurnaan. Namun yang pasti, bentuknya berbeda
dengan mesin-mesin pompa lainnya”, tuturnya.
Merasa telah mencapai bentuk spesifiknya, Saverinus
Nurak --dengan dorongan serta dukungan kuat dari Laurens Say (mantan Bupati
Sikka 1967-1977 dan mantan anggota DPR RI 1977-1982)-- mulai merakitnya.
Salah satu mesin pompa hasil rakitannya pernah dicoba di perkampungan
Wairpung (Sikka) tahun 1987. Hasilnya menakjubkan. Beroperasi tanpa katup,
mesin sederhana ini mampu menyedot air dari kedalaman sekitar 10 meter,
kemudian mampu mendorongnya hingga ketinggian hampir 300 meter. ”Kalau pakai katup, daya
sedot dan daya dorongnya bisa mencapai ratusan dan ribuan meter”, yakin
Guru Sepe.
Menyaksikan hasil menggembirakan ini, sang penemu
bersama Laurens Say langsung mengusahakan hak patennya.
Di bengkel kerja di komplek SMK (Sekolah Menengah
Kejuruan) Negri I Maumere, sosok Guru Sepe sama sekali tak menonjol. Dengan
pakaian lusuh, penemu mesin pompa tangan ”S Nurak” ini lebih
banyak diam dan bekerja. Jika ditanya tentang karyanya, dengan ramah dan rendah hati ia malah
menunjuk Laurens Say. Kerendahan hati serta kesederhanaan penampilannya
sempat membuat sekelompok wartawan ’salah alamat’. Ketika
ditemui, mereka justru mengira
Laurens Say sebagai penemu mesin pompa tangan ini. Untung, mantan bupati itu segera ganti
menunjuk seseorang yang kebetulan berada di sampingnya. ”Kalau
yang kalian cari penemu pompa tangan, inilah orangnya”, tutur Laurens Say
sambil menepuk bahu Saverinus Nurak alias Guru Sepe.
Apa keistimewaan mesin pompa ”S
Nurak” ? Yang
pasti daya sedot dan daya dorong mesin ini memiliki kekuatan dahsyat dibanding
sejumlah mesin pompa jenis lainnya seperti sentrifugal, turbin, blimbing
atau isap tekan. Mesin lain dilengkapi katup, namun daya sedot dan daya
dorongnya rata-rata dibawah kemampuan mesin pompa ”S
Nurak”. Menurut Guru Sepe, ini dimungkinkan karena ”S Nurak” dilengkapi
penyetel as pengendali hingga proses penyedotan dan pendorongan dapat
dilakukan melalui dua arah. ”Kelengkapan seperti ini tidak dimiliki mesin
pompa lain”, jelasnya.
Dengan modal seadanya, perakitan mesin pompa ini
dilakukan oleh Saverinus Nurak bersama empat guru dari SMK Negri I Maumere.
Perakitan di bengkel sekolah ini tidak banyak mengalami kesulitan karena
kebetulan Laurens Say sendiri ketua majelisnya. Hingga saat ini, mesin
pompa ”S Nurak” rakitan bengkel sekolah itu berjumlah empat unit,
masing-masing satu unit di Serpong, ATMI (Akademi Teknik Mesin Industri)
Solo dan dua lainnya di Maumere.
Dunia ilmu pengetahuan kini jelas mencatat satu temuan
baru mesin pompa tangan ”S Nurak” dengan hak paten atas nama
penemunya sendiri. Yang ditunggu sekarang adalah lirikan pemerintah atau
investor hingga temuan ini dapat dirakit atau dipabrikasi secara
massal,mengingat kondisi berbagai daerah yang sangat membutuhkan jenis pompa tangan seperti ”S
Nurak”. Namun yang pasti, Guru Sepe keberatan kalau hak patennya harus
digadaikan. Seorang pengusaha Korea Selatan sekitar empat tahun lalu (1994)
pernah bermaksud membeli hak paten temuannya itu seharga Rp 3 milyar. ”Saya
sangat keberatan
kalau harus kehilangan hak paten saya”, tegasnya. (Frans
Sarong) --- Sumber: Harian Kompas, 18 April 1998.

sebelumnya
| awal | berikutnya
|