Ragam Pustaka

 

LEGENDA MAKHLUK TERPILIH

HAJI MAHBUB
Kesabaran dalam Ujian Hidup

 

 

Haji Mahbub lahir di daerah Kuningan, Jakarta, 5 September 1927. Memiliki darah keturunan Arab dan etnis setempat dari kedua orangtuanya. Ayahnya bernama Bp. Djunaedi bin Sa’abah bin Timit sedangkan ibunya adalah Khadijah binti Hamdali binti Gde Be’un binti Rochim binti Tidar (Tidore). Ketika beliau lahir, orang yang membantu proses kelahirannya memberitahu sang ibu, bahwa putranya memiliki tanda (ghaib) bercahaya berwarna merah tepat di tengah ubun-ubun kepalanya. Kemudian setelah itu berbagai peristiwa ghaib sering muncul padanya. Ketika masih usia bayi, sewaktu tidur dalam buaian ayunan di rumahnya, tiba-tiba muncul seorang misterius berpakaian serba hitam dengan kepala tertutup caping lebar yang ternyata bermaksud mengambilnya. Beruntung sang ibu sempat memergoki dan langsung mengusirnya sambil membaca sebuah dzikir yang biasa diamalkan. AlhamdulilLah, Allah berkehendak menyelamatkannya. Namun gangguan semacam ini belum berhenti hingga usia dewasa, sampai pada akhirnya kelak mengantarkannya pada pendalaman sufi.

 

Masa kecil dilalui sebagaimana anak-anak lain pada masanya. Namun minat dan ketaatan yang tinggi pada agama sudah menonjol. Selain bersekolah formal hingga lulus dari Sekolah Teknik, pada usia 6 tahun sampai 10 tahun, beliau mengaji kepada Ustadz Suhaimi dan juga kepada Kyai Ilyas sejak usia 8 tahun. Pada usia 31 tahun, beliau pernah mengalami sakit panas dan malamnya bermimpi ada yang datang lalu hendak membawanya pergi ke Gunung Gede, namun tiba-tiba ada wujud seorang kakek-kakek yang datang menolongnya sampai beliau kemudian terbangun. Sang kakek sempat memberikan pengakuan bahwa beliau bernama (Sayyidina) Hasan al-Basri dan mengatakan bila ingin menemukan jalan agar terhindar dari hal-hal semacam yang baru saja dialami, dianjurkan untuk menjumpai Kyai H. Tjamak dan mengaji kepadanya. Kyai H. Tjamak adalah guru sufi Thariqah Naqshabandiyah di daerah tempat tinggal Pak H. Mahbub, yaitu di daerah Pedurenan (Kuningan), Jakarta. Maka mulailah beliau belajar sufi kepada gurunya ini selama lebih kurang 10 tahun. Beliau sangat suka beribadah hingga yang sunnah menjadi bagaikan wajib baginya. Walaupun pekerjaan duniawi untuk mencari nafkah bagi keluarganya tidak ditinggalkan. Beliau juga tidak suka menonjolkan diri, sehingga hanya sedikit yang mengetahui karomah beliau, ini pun terbatas dari kalangan kerabat atau kenalan dekatnya saja.

 

Semasa hidupnya, beliau seringkali mendapat ujian-ujian Allah, misalnya tiba-tiba selama satu bulan, semua kendaraan umum (angkot) yang ada padanya tidak ada yang bisa dihidupkan mesinnya tanpa ada masalah teknis, sehingga dengan demikian tidak dapat dipergunakan untuk mencari nafkah seperti biasanya, sampai kemudian secara bersamaan pula, semua kendaraan itu bisa dijalankan kembali tepat setelah masa satu bulan berlalu. Dan banyak lagi bentuk-bentuk ujian lainnya. Pada 10 April 1999, beliau kembali menemui Sang Maha Pemilik. Nasihat yang pernah dikemukakan beliau antara lain agar kita senantiasa menjaga syahadat dan waspada (untuk menghindari) pada yang meruntuhkannya (menghalangi) yaitu: syirik, durhaka kepada orangtua dan durhaka istri kepada suaminya. Termasuk dalam upaya menjaga diri dari syirik adalah tidak meminta pertolongan pada jin.

sebelumnya | awal | berikutnya