|
ARYADI SUWONO & TIM PENELITI ITB
Penemu Bahan
Pendingin (Hycool) Pengganti Freon Yang Lebih Hemat Energi
Krisis energi yang terjadi saat ini harus segera
dicarikan jalan keluarnya. Bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke
depan negara kita benar-benar akan kehabisan sumber-sumber energi. Salah
satu sumber energi yang sangat penting adalah listrik. Parahnya, banyak
sekali pihak-pihak yang menggunakan listrik dengan boros, terutama hotel,
perkantoran, gedung-gedung bertingkat, dan industri. Khusus untuk hotel dan
gedung perkantoran, ternyata 60 persen penggunaan listriknya untuk air
conditioning (AC). Hal yang sama juga terjadi pada industri dan
gedung-gedung perkantoran. Karena itu perlu terobosan guna menghemat
pemakaian listrik untuk AC.
Sejumlah dosen dan mahasiswa Teknik Mesin Institut
Teknologi Bandung (ITB) telah mengadakan penelitian untuk menemukan cara
menghemat pemakaian listrik untuk AC. Hasilnya, mereka menemukan Hycool,
bahan pendingin (refrigeran) campuran untuk menggantikan bahan freon yang
selama ini digunakan untuk AC. Selain lebih hemat energi, Hycool juga lebih
ramah lingkungan karena tidak melepaskan zat-zat yang bisa merusak ozon
sebagaimana freon.
Hasil penelitian tersebut kemudian dipatenkan dan
dikembangkan secara massal oleh PT Citra Total Buana Biru. Perusahaan ini
dipimpin oleh salah seorang mantan mahasiswa ITB yang ikut dalam penelitian
tersebut, Ir Ahmad Fahmi. Atas prestasi ini Ketua Tim Peneliti ITB, Prof Dr
Ir Aryadi Suwono, mendapatkan penghargaan khusus dari Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono yang diserahkan pada 17 Agustus lalu.
Kepada wartawan, Prof Aryadi mengatakan, penelitian
tersebut dilakukan sekitar 1983 karena saat itu terjadi krisis energi yang
berdampak pada industri. Bersama sejumlah dosen dan mahasiswa ITB, pihaknya
lalu mengadakan penelitian khusus untuk mencari bahan pendingin yang hemat
energi. Hycool adalah tiga bahan pendingin hidrokarbon, yaitu HCR-12,
HCR-22 dan HCR-134a. Ketiga bahan ini memberikan tiga keunggulan, hemat
energi/listrik, ramah lingkungan karena tidak merusak ozon dan tidak
mengakibatkan pemanasan global, serta bisa memperpanjang usia kompresor AC.
Hycool bisa menghemat pemakaian listrik 12-24 persen.
Dengan demikian, pemakaian bahan ini sejalan dengan Instruksi Presiden
Nomor 10 tahun 2005 tentang penghematan energi. ''Contohnya, Hotel Gran
Melia. Biaya untuk listrik per bulan bisa mencapai Rp 600 juta. Dan, 60
persennya akibat pemakaian AC. Ketika menggunakan Hycool penghematan bisa
mencapai 17 persen. Artinya, tiap bulan mereka bisa hemat sekitar Rp 100
juta,'' ungkapnya.
Jika hal yang sama juga dilakukan oleh hotel, gedung
perkantoran, perumahan, apartemen, industri, dan sebagainya, maka jumlah
energi yang bisa dihemat sangat besar. Ini akan membawa keuntungan bagi
pemerintah, kalangan swasta, dan PLN sendiri. Bagi PLN, penghematan energi
bisa menghemat cadangan listrik sehingga mencukupi kebutuhan dan tidak
perlu membangun fasilitas pembangkit listrik baru. Keuntungan bagi
pemerintah, berkurangnya dana yang digunakan untuk mensubsidi BBM bagi PLN.
Seperti diberitakan, bahan bakar yang digunakan PLN memang masih disubsidi
oleh pemerintah.
''Selain hemat energi, Hycool juga lebih ringan
daripada freon. Dengan menggunakan bahan pendingin ini, kinerja AC tidak
berubah. Dinginnya tetap sehingga kenyamanannya pun tetap bisa dirasakan,''
papar alumnus Universite de Perpignan Prancis ini. (jar) --- Sumber: Harian
Republika, 26 Agustus 2005.

sebelumnya
| awal | berikutnya
|