|
LAMPU-LAMPU KUNO
ANEH
Para
arkeolog yang terkesan dengan kerapian penyusunan interior dan keindahan
relief lukisan dinding-dinding di dalam piramid Mesir kemudian menyadari,
bahwa tanpa adanya alat penerangan maka bagaimana para pekerja maupun
senimannya dapat melakukan pekerjaannya? Jika demikian, maka seharusnya ada
alat penerangan. Tetapi yang membingungkan mereka adalah tak pernah
ditemukan adanya jelaga atau bekas-bekas sisa pembakaran api sebagaimana
lazimnya alat penerangan kuno (obor, lilin, lampu minyak). Lantas teknik
penerangan apa yang mereka gunakan pada masa itu?
Dalam
suatu ruang di bawah Kuil Dendera, sebuah kuil yang terletak di
sebelah selatan Luxor (Mesir) dan dibangun oleh firaun Mesir untuk
memuja Dewi Hathor pada 4.200 tahun yang lalu, terdapat
relief-relief yang menggambarkan semacam alat penerangan berupa bola lampu
lonjong berukuran besar. Bagian kepala bola lampu disangga oleh dudukan
dengan per pegas yang tampaknya dapat berfungsi untuk menaikkan atau
menurunkan arah (sorotan) lampu. Sedangkan bagian ujung lainnya terhubung
dengan semacam pipa melengkung ke kotak dasar alat penerangan tersebut.
Walaupun seandainya gambar tersebut merupakan simbol, tetapi bagaimana
masyarakat pada masa itu dapat membuat desain teknis semacam itu?
Tahun 1601, seorang pendeta dan
pencatat perjalanan para pelaut penjelajah Spanyol bernama Barco
Centenera memberitakan tentang sebuah kota di tengah belantara Amerika
Selatan yang dihuni penduduk Inca bernama El Gran Moxo, dekat hulu Rio
(sungai) Paraguai, bagian tengah Matto Grosso (kini adalah
sebelah barat kota Diamantino) yang memiliki sebuah ‘bulan’
(bola lampu) menakjubkan di atas sebuah tiang setinggi 7,75 meter. Bola
lampu ini berdiameter sekitar 10 kaki dan bersinar sangat terang.
Pada
sebuah konferensi tentang lampu jalan dan lalulintas tahun 1963 di Pretoria
(Afrika Selatan), C.S. Downey mengemukakan tentang sebuah pemukiman
terisolir di tengah hutan lebat Pegunungan Wilhelmina (Peg. Trikora)
di Bagian Barat New Guinea (Papua) yang memiliki sistem penerangan maju.
Para pedagang yang dengan susah payah berhasil menembus masuk ke pemukiman
ini menceritakan kengeriannya pada cahaya penerangan yang sangat terang
benderang dari beberapa ‘bulan’ yang ada di atas
tiang-tiang di sana. Bola-bola lampu tersebut tampak secara aneh bersinar setelah
matahari mulai terbenam dan terus menyala sepanjang malam setiap hari.
Sumber:
1.
Childress,
David Hatcher. “Lost Cities
& Ancient Mysteries of South America”.
2.
Doernenburg,
Frank. Mysteries of the Past. “Electric
Light in Ancient Egypt?”. 1998.
3.
Kjellson,
Henry & C. A. Matsson. “Teknik
i Forntiden”.


sebelumnya
| awal | berikutnya
|