Ragam Pustaka

 

LEGENDA MAKHLUK TERPILIH

LIU PANG
Kesabaran Sang Patriot

 

Kaisar Shin Huang, pendiri tembok raksasa Tiongkok, pernah mengeluarkan dekrit yang isinya adalah melarang penduduknya memiliki peralatan dari besi yang sekiranya bisa dipakai untuk membunuh. Dasar pelarangan ini adalah karena pada saat itu telah terjadi banyak usaha pembunuhan terhadapnya secara berturut-turut oleh sekelompok orang. Akibat larangan ini, rakyat menjadi semakin menderita karena untuk satu area jalan, hanya boleh ada sebilah pisau saja untuk pekerjaan memotong! Karenanya untuk mengiris sayuran pun, orang harus antri panjang menunggu gilirannya.

 

Mengetahui hal ini, pemimpin pemberontak menjadi sangat menyesal karena akibat tindakannya (meskipun dengan itikad baik), pada akhirnya justru rakyat juga yang menderita. Ia menjadi frustrasi dan mulai menjadi pemabuk.

 

Pada suatu hari, ketika ia lewat di sebuah jembatan, ada seorang tua tak dikenal yang menyapanya dan minta tolong supaya mengambilkan sepatunya yang terlepas di tengah jalan. Dengan sukarela ia membantu memungut dan menyerahkan sepatu tersebut. Namun orang tua itu tidak mau menerima begitu saja dan justru meminta agar sekaligus dipasangkan ke kakinya. Pemimpin pemberontak menjadi marah dan mencaci maki orang tua tak tahu diri itu. Namun orang tua misterius itu menukas: “Itikad baik, tujuan mulia, patriotisme dan main pedang saja, tidak cukup kalau tidak digabungkan dengan kemampuan mengontrol diri sehingga mampu membuat perhitungan yang matang. Akibat kecerobohanmu, dan bukan ketaktisanmu maka sekarang seluruh rakyat menderita!”. Mendengar teguran yang mengena sasaran itu, si pemimpin pemberontak mengakui kelemahan yang ada padanya dan minta diberikan petunjuk. Orang tua itu mengatakan: “Besok pukul 05.00 pagi, datanglah ke sini untuk saya berikan petunjuknya”.

 

Keesokan harinya, karena semalaman bermabuk-mabukan, pemuda ini datang terlambat menemui si orang tua yang kemudian menegurnya: “Kamu yang lebih muda datang terlambat dan yang lebih tua harus menunggu! Mana keseriusanmu? Kalau mau menjadi pemimpin, tidak cukup hanya bermodal keberanian, ilmu silat dan kenekadan saja, tetapi juga dalam hal datang tepat waktu seperti yang telah dijanjikan. Sekarang saya tak mau memberimu petunjuk. Besok saja engkau kembali lagi!”.

 

Tengah malamnya, pemuda ini sudah berangkat meninggalkan kediamannya dan menunggu kedatangan orang tua itu. Hingga ketika tiba waktunya, orang tua itu datang dan memberikan sebuah buku berisi tentang taktik dan strategi perang yang harus dipelajarinya selama 10 tahun. Menjelang perpisahan, orang tua itu berkata, “Enambelas tahun lagi, jika Tuhan perkenankan, kamu akan menjadi orang besar!”. Dan seperti yang terbukti dalam sejarah, pemuda ini kemudian menjadi kaisar pertama Dinasti Han, Liu Pang [dibaca: Ly Bäng] (206-195 SM), setelah ia berhasil menggulingkan Dinasti Ch’in.

sebelumnya | awal | berikutnya