|
ROBERT MANURUNG
Penemu Minyak
Jarak Murni
Dalam situasi krisis minyak
bumi ini, Dr Ir Robert Manurung MEng (50), Lektor Kepala Departemen Teknik
Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), tetap konsisten meneliti pirolisa
biomassa-usaha mencairkan bahan bakar padat (biomassa) secara termal untuk
menghasilkan bahan bakar cair, gas yang bisa terbakar, dan padatan berupa
arang-seperti cahaya terang di ujung terowongan. Ketekunannya berangkat
dari pemikiran bagaimana membuat potensi alam Indonesia menjadi berkah yang
berguna untuk masyarakatnya.
Penelitiannya pada jarak
pagar (Jatropha curcas L) memperlihatkan secara teknologi sederhana dan
ekonomis memungkinkan mengutip minyak jarak untuk menggantikan solar.
Penelitian minyak jarak
dilakukan laki-laki kelahiran Onan Ganjang, Tapanuli Utara, Sumatera Utara,
itu sejak tahun 1997 bersama teman-temannya di ITB dengan fokus pengutipan
(ekstraksi) minyak kelapa dan jarak. Rancangan ekstraksi itu sempat
dipamerkan tahun 1998 di Istana Negara. Pada periode itu, Manurung yang
menyelesaikan S-1-nya di Teknik Kimia ITB, S-2 di Technology Asian
Institute of Technology (Bangkok) dan S-3 di Rijksuniversiteit Groningen
(RuG, Belanda) ini juga sedang mendalami struktur berbagai minyak tumbuhan.
Sayangnya, dia gagal mendapat dana Riset Unggulan Terpadu karena dianggap
tidak relevan. Yang tertarik membiayainya justru RuG, Belanda.
“Penelitian yang
diperlukan bukan lagi pada minyak jaraknya karena minyaknya dapat digunakan
langsung sebagai bio-diesel tanpa campuran metanol atau bahan lain, tetapi
bagaimana mengutip minyak itu seefisein mungkin. Yang lebih penting lagi,
bagaimana memanfaatkan limbah padatannya," papar Manurung yang tengah
meneliti pengutipan minyak dari limbah jarak untuk mendapat pengganti
minyak tanah, bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengkajian
Teknologi.
Ketertarikan Manurung
pada pirolisa dipicu pengalamannya di kampung. Sampai usia 14 tahun sebelum
melanjutkan pendidikan SMA ke Bandung tahun 1970, Manurung dan
saudara-saudara lelakinya harus mencari kayu bakar untuk digunakan ibunya
memasak. “Sekembali dari luar negeri di kampung kami BBM bukan lagi
barang mewah, tetapi di berbagai pelosok Indonesia apa yang saya rasakan
30-40 tahun lalu di kampung masih mereka alami. Padahal, saya sudah
menjelajah berbagai negeri turut mengembangkan teknologi limbah pertanian menjadi
energi," kata ayah Christy Sondang Nauli (8), Efraim Partogi Nahotasi
(6), dan Gamaliel Adaran Nadiuarihon (4) dari pernikahannya dengan Desi
Indira Chaer yang juga lulusan Teknik Kimia ITB.
Sejak belum lulus dari
ITB, pada tahun 1977 Manurung sudah dilibatkan Prof Dr Saswinadi Samojo
dalam penelitian bahan bakar terbarukan yaitu pirolisa sekam padi. Pada
tahun 1976, ITB berkerja sama dengan TH Twente dan TH Delft, (keduanya dari
Belanda), dalam penelitian energi baru dari biomassa melalui proses gasifikasi.
Dalam kerja sama TH
Twente-ITB, Prof Dr Ir AACM Beenackers tahun 1982 mengunjungi ITB untuk
menjajagi pengembangan gasifikasi sekam padi skala kecil. Dalam sebuah
desertasi doktor di Jerman dikatakan, karena sifat fisik sekam padi dan
kandungan silikanya yang tinggi tidak mungkin gasifikasi dibuat dalam skala
kecil. Di depan tamunya Manurung mengambil potongan seng. Dengan meniru
tungku sekam padi di pedesaan Yogyakarta, tiga jam kemudian alat yang
dimodifikasi dengan menambah penyalur udara dan kompresor serta berisolasi
itu siap. Manurung mendapat biaya penelitian doktor dan dia dipromosikan di
Rijksuniversiteit Groningen pada tahun 1993.
“Promosi itu
menjadi kenangan indah pertama sebagai peneliti karena yang saya katakan 10
tahun sebelumnya terbukti kebenarannya secara ilmiah dalam desertasi doktor
saya," papar Manurung yang langsung mendapat kesempatan melanjutkan
penelitian post-doctoral selama setahun di Massachusetts Institute of
Technology (MIT) di AS. Sepulang dari MIT dia terobsesi pada penelitian
pirolisis minyak tumbuhan karena teknologi saat itu memungkinkan pengutipan
sampai 70 persen berat biomassa serta penggunaannya menggantikan BBM.
Karena itu ketika
Mitsubishi Research Institute (Miri) dan New Energy and Industrial
Technology Development Organization (NEDO) dari Jepang mengajak bekerja
sama, Manurung menekankan penggunaan langsung minyak jarak tanpa campuran
bahan lain dan pengolahan lebih lanjut limbahnya. Tahun depan, dia optimis
teknologi pengutipan minyak jarak ini dapat disebarkan ke masyarakat.
Jarak dipilih karena bisa
tumbuh di tanah tandus. Kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara
Timur dan Nusa Tenggara Barat, serta sejumlah pesantren di Jawa Barat
memperlihatkan produktivitas buah sampai 30 kg/pohon/tahun sehingga
keekonomisan juga bisa dicapai.
“Menariknya, ada
rekan yang tidak percaya, ada pesimis, tetapi ada juga yang mengatakan
“nothing new". Nothing is perfect di dunia. Karena itu perlu
penelitian dan pengembangan lebih jauh," kata staf ahli bidang
keahlian energi baru Himpunan Kerukunan Tani Indonesia ini.
Penggunaan jarak sebagai
substitusi solar sangat dimungkinkan. Bahkan, tidak seperti yang selama ini
dinyatakan Pemerintah, yaitu mencampur dengan solar, sesungguhnya minyak
jarak murni pun bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan mesin kendaraan.
Percobaan ini telah dilakukan melalui Jatropha Expedition 2006 yang
melewati rute Atambua, Bali dan berakhir di Jakarta.
Menurut Manurung,
penggunaan minyak jarak 100 persen ini sangat dimungkinkan. Bahkan dalam
perjalanan, tim ekspedisi Jatropa 2006 yang pada Senin (17/7/2006) sampai
di Bali, mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Dia mengatakan,
tanaman jarak ini selain buahnya bisa menghasilkan minyak murni yang bisa
digunakan langsung sebagai bahan bakar kendaraan, ampasnya pun bisa
dimanfaatkan sebagai pupuk. Persentasenya mencapai 40 persen untuk minyak
dan 60 persen untuk pupuk.
B. Prabowo, anggota tim
ekspedisi yang bertugas mengkomparasikan data menambahkan bahwa dari hasil
pengukuran yang dilakukan pada tiga mobil yang dijadikan percobaan, mobil
berbahan bakar minyak jarak murni menghabiskan 29 liter untuk jangkauan 274
kilometer. Dia mengatakan jika ditarik perbandingan pemakaian angkanya
mencapai 1 : 9,4. Sementara itu mobil yang menggunakan campuran dengan
komposisi 50 persen solar dan 50 persen minyak jarak diperoleh hasil
penggunaan minyak jarak sebanyak 31,5 liter. Sedangkan untuk mobil berbahan
100 persen solar dengan jangkauan tempuh 301 kilometer, solar yang
dihabiskan sekitar 35 liter atau 1 : 8,6.
Prabowo menyimpulkan
sementara ini, dilihat secara teknis, spesifikasi minyak jarak murni sudah
bisa digunakan sebagai substitusi solar. Selain lebih hemat, yang perlu
diingat jarak juga menghasilkan emisi dari tanaman. Artinya lebih ramah lingkungan dibandingkan emisi yang
dikeluarkan solar. (Ninuk M Pambudy, kmb18) --- Sumber: Harian Kompas, 12
Mei 2005, Harian Bali Post, 18 Juli 2006.

sebelumnya
| awal | berikutnya
|