|
MINTO
Penemu Kompor dan
Pengering Hasil Tani dengan Tenaga Matahari
Meski telah berhasil menciptakan kompor tenaga
matahari yang berfungsi ganda, untuk memasak dan antena parabola, seta
telah mendapat pengakuan kalangan perguruan tinggi ini, termasuk
penghargaan dari Direktorat Jendral Listrik dan Pengembangan Energi
Departemen Pertambangan dan Energi, Minto, guru Sekolah Dasar Negri (SDN)
Prambon I, kecamatan Dagangan, kabupaten Madiun (Jawa Timur), ini tak
pernah berhenti menciptakan alat berenergi sinar matahari.
”Waton tekun, mesti
ketemu tujuane. Ora usah neko-neko (Asalkan tekun, pasti berhasil. Tidak usah berbuat yang
aneh-aneh)”, ujar Minto.
Awal 1988, Minto yang tinggal di desa Mruwak,
kecamatan Dagangan, Madiun ini tergerak niatnya untuk membuat kompor tenaga
matahari. Keinginan itu dilandasi kenyataan dalam masyarakat pedesaan yang
hidup di kaki gunung Wilis (Madiun). Sehari-hari, mereka tergantung pada
kayu-kayu hutan untuk keperluan memasak. Sementara keadaan hutan jati di
wilayah itu makin gundul. Dampaknya, untuk mencari kayu bakar di hutan,
masyarakat harus berjalan kaki antara 3,5 km sampai 8 km.
Keadaan ini melecut nurani Minto, lulusan Sekolah
Pendidikan Guru (SPG) tahun 1973 untuk membuat suatu karya yang bermanfaat
bagi penduduk sekitar hutan. Gagasan itu baru terwujud berupa kompor tenaga
matahari yang lalu dikembangkan hingga dapat dimanfaatkan untuk antena
parabola tahun 1991.
”Sampai sekarang (akhir
1998) sudah 60 unit kompor tenaga matahari yang saya buat dan tersebar di
NTT, Bali, Jatim, Jateng, Jakarta, Lampung, Palembang dan Pontianak”, ujar bapak dua anak ini.
Dari hasil temuannya itu, kini Minto kerap menjadi
narasumber dalam berbagai pertemuan ilmiah di kampus-kampus di negri ini.
Sebanyak 14 penghargaan pun sudah diterima, diantaranya dari Institut
Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), Bappeda NTT, Pemda Tk II Kupang (NTT)
dan Universitas Udayana Denpasar (Bali). Selain itu, ratusan surat telah
diterimanya. Isinya meminta agar pak guru mau menebarkan ilmunya kepada
masyarakat luas.
”Terakhir saya diundang
sebagai instruktur pelatihan pengenalan dan penyebarluasan teknologi energi baru.
Pesertanya dari eselon III/IV di Lingkungan Depdikbud di Cisarua, Bogor.
Padahal, pada saat bersamaan sebenarnya saya harus menyelesaikan pembuatan
alat pengering tenaga matahari dan pemanas air tenaga matahari (solar water
heater). Karena kesibukan itu, terpaksa penyelesaian alat pemanas air
bertenaga matahari, saya tangguhkan”, katanya.
Prinsip kerja kompor tenaga matahari buatan Minto ini
berdasarkan pantulan cahaya matahari oleh beberapa keping cermin datar.
Keping-keping ini ditata pada kerangka reflektor yang bentuknya menyerupai
parabola. Bila reflektor diarahkan tegak lurus searah datangnya sinar
matahari, semua pantulan akan menuju ke satu titik. Kumpulan sinar pantul
ini akan menimbulkan panas amat tinggi. ”Panas pada kompor tenaga
matahari ini adalah radiasi sinar infra merah matahari, sehingga memiliki
beberapa keistimewaan”, ujarnya.
Jika cuaca cerah, kompor buatan Minto ini bisa bekerja
optimal. Reflektor berdiameter 150 cm dapat mendidihkan air satu liter
dalam waktu 10-11 menit dengan kaoasitas maksimal empat liter air. Bila
diameter reflektor 267 cm, mampu mendidihkan air satu liter dalam waktu dua
menit dengan kapasitas maksimal 18 liter.
Kompor temuan Minto ini juga bisa menjadi antena
parabola bila dilengkapi low noise block (LNB), feed horn, receiver, kabel
dan pesawat televisi. Prinsipnya, kata Minto, reflektor yang tegak lurus
dengan arah datangnya gelombang elektromagnetik dari satelit akan
memantulkan kembali semua gelombang itu menuju ke fokus. Kumpulan gelombang
itu ditangkap LNB (penguat sinyal). Dari LNB ini sinyal diteruskan ke
receiver lewat kabel untuk dipilih gelombang mana yang diinginkan. Dari
receiver, diteruskan ke pesawat televisi. ”Jumlah saluran
yang diterima sama. Gambarnya
juga bagus, sebab kaca ditata rapat. Semua sinyal dari satelit dapat
dipantulkan ke LNB”, katanya.
Saat itu, Minto, guru SD dengan gaji Rp 450.000,-
sebulan itu sedang merampungkan 14 unit alat pengering tenaga matahari
pesanan Ditjen Listrik dan Pengembangan Energi, Departemen Pertambangan dan
Energi. ”Pengering tenaga matahari ini temuan saya yang terbaru. Pengering ini dapat
mengeringkan gabah, jagung, kacang tanah dan cengkeh. Praktis bila
dibanding dengan menjemur hasil pertanian di lantai. Tetapi temuan ini
belum efektif untuk mengeringkan GKP (gabah kering panen –
red) menjadi GKG (gabah kering giling – red), karena kapasitasnya Cuma dua
kuintal”, lanjut suami Ny. Sutjiati, guru SDN Segulung IV Dagangan (Madiun)
ini.
Namun alat pengering buatan Minto itu mampu menghemat
waktu dua jam. ”Untuk mengeringkan gabah, petani biasanya
butuh waktu sembilan
jam. Dengan alat ini, hanya perlu waktu tujuh jam. Dan kalau tiba-tiba
hujan, petani tidak perlu repot”, katanya.
Alat pengering ciptaan Minto itu pun bisa berfungsi
banyak, untuk pengering hasil pertanian, pengering hasil perikanan (untuk
mebuat ikan asin), dan hasil industri kecil seperti kerupuk, lempeng,
emping dan sebagainya. Prinsip kerja alat pengering ini mengubah sinar
matahari menjadi udara panas. Udara panas itu dialirkan lewat rak-rak
pengering. Hasil ujicoba alat ini diperoleh suhu panas pada mulut kolektor
57 derajat celsius, pada rak pertama 51 derajat celsius dan di rak
kedelapan 46 derajat celsius. ”Harganya? Rp 800.000,-
per unit. Tetapi kalau harga-harga komponen turun, ya harganya bisa ditekan
lagi”, ujar Minto.
Gagasan membuat pengering tenaga matahari bermula dari
tawaran Ir. Ris Wahyuti, Kasubdit Energi Pedesaan Ditjen Listrik dan
Pengembangan Energi Departemen Pertambangan dan Energi. Hanya selang dua
bulan –tawaran datang Agustus 1998—Minto dapat merampungkan tujuh unit
pengering tenaga
matahari pada Oktober 1998 dan kemudian sudah dimanfaatkan masyarakat di
Sragen, Sleman, Tegal, Pekalongan, Semarang dan Manado.
Meski telah membuat banyak karya, namun Minto mengaku
tak mau mengorbankan profesinya sebagai guru. ”Itu
semua hanya
sampingan. Saya nggak mau mikir yang neko-neko, karena tugas dan tanggung
jawab saya sebagai guru tidak boleh keteter. Mungkin kalau tidak mengajar,
saya bisa menyelesaikan alat pemanas air tenaga matahari seharga Rp
600.000,- . Tetapi waktu saya tersita untuk mengajar dan mengerjakan alat
pengering multiguna”.
Sebagai guru Ilmu Pendidikan Alam (IPA) tingkat SD,
Minto mengaku, selalu mengimplementasikan apa yang diajarkan kepada anak
didiknya ke dalam kreatifitas karya cipta teknologi tenaga matahari. Hasrat
besar mempelajari bidang teknologi yang ditunjang kepedulian terhadap
bidang teknik, ikut memberi andil besar terhadap keberhasilannya. ”Kadang-kadang
saya berpikir, jangan-jangan saya ini salah asuh”, kata Minto sambil
tertawa (Abdul Lathif) --- Sumber: Harian Kompas, 21 Januari 1999.

sebelumnya
| awal | berikutnya
|