Ragam Pustaka

 

LEGENDA MAKHLUK TERPILIH

PAK TUA TUKANG OJEK
Kesabaran Dalam Kejujuran

 

 

Di depan gedung LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) itu ada jalan memotong ke arah kompleks perumahan menteri. Sejumlah kecil ojek mangkal di jalan itu. Satu diantara tukang ojek itu adalah seorang kakek dari Blitar, Jawa Timur. Saya sering menggunakan ojek kakek itu. Skuter tua yang ia gunakan tersuruk-suruk di jalan-jalan Jakarta, mengantar penumpang dengan mengutamakan keselamatan. "Biar pelan asal jalan, lambat tapi selamat," kata kakek itu.

 

Ketika baru kenal, saat mau berangkat dengan skuter itu saya selalu ditanya, apakah saya terburu-buru. Sebagai sesama orang Jawa, saya paham ke mana arah pertanyaannya. Maka, biarpun saya harus mengejar waktu, saya selalu menjawab bahwa waktu saya cukup longgar "Soalnya, Pak," kata kakek itu, "bagi saya yang penting itu selamat. Kalau penumpang terburu-buru pun akan saya minta kerelaannya untuk saya antar secara pelan asal jalan," katanya.

 

Ketika sebuah Kopaja (angkutan minibus di Jakarta) berhenti mendadak, dan kakek itu terpaksa menginjak rem secara mendadak juga, sehingga ujung ban depan skuternya hampir menempel bagian belakang Kopaja yang sembarangan itu, si kakek bukannya hanya tidak marah, melainkan malah merasa beruntung. "Untung tidak nabrak," katanya kalem. Ketika bus kota memepetnya di trotoar, dia cuma berkomentar pelan: “piye bus iki karepe (apa maunya bus ini)”. Rem diinjak dengan kalem. Dan kami berhenti. Tak ada makian apa-apa. Yang ada malah sikap syukur, karena bagaimanapun semuanya selamat.

 

Prinsip "asal selamat" itu tak cuma berlaku di jalan raya. Dalam tiap langkahnya kakek itu menomorsatukan keselamatan. Ia memang bukan sembarang tukang ojek. Ia dulu pernah bekerja di kantor. Memang benar, ia hanya pegawai rendahan. Tapi ia pernah menolak perintah atasan untuk menandatangani kuitansi fiktif. Semua pegawai sudah bertandatangan, dan mereka kebagian rejeki. Cuma si kakek dari Blitar ini yang tak mau.

 

"Saya butuh uang seperti mereka juga. Tapi saya tak setuju caranya," katanya. "Cara itu tidak membawa selamat," tambahnya. "Lho, bukannya atasan yang menyuruh? Bukankah atasan menanggung semuanya?" kata saya. "Betul. Tapi atasan saya itu punya atasan. Dan atasannya atasan saya juga punya atasan lagi. Raja yang paling kuasa pun punya atasan. Kepada atasan yang paling atas itu saya takut ...," katanya.  [Mohammad Sobary, Kompas, 21 November 1991]

sebelumnya | awal | berikutnya