BAPAK WIRJONO
Kesetiaan sebagai
Guru

Wirjono Parwopranoto lahir pada 4 Mei 1942 di
Sragen, Jawa Tengah. Ayahandanya bernama Parwopranoto yang kala itu menjadi
kepala daerah setempat dan Ibundanya bernama Lugi. Keduanya
membesarkan Pak Wir dalam nilai-nilai
keagamaan yang tinggi. Pada saat
di Sekolah Menengah Pertama, beliau telah ditinggalkan oleh Ayahandanya sehingga harus mulai
belajar mandiri sejak saat itu untuk membantu meringankan beban Ibundanya. AlhamdulilLah
dengan semangat dan kerja keras, beliau dapat
menyelesaikan pendidikannya hingga lulus SMA Negri di Malang, Jawa Timur pada 1962.
Pada 1963, sambil menjalani kuliah di Akademi
Koperasi, Pak Wir diterima sebagai tenaga pengajar di SMEA Arjuno, Malang. Di Sekolah ini,
Pak Wir bertemu dengan Bu Wahyuni, yang menjadi salah satu siswanya di kelas dua. Empat
tahun kemudian, 1967, Pak Wir dan Bu Wahyuni menikah di kediaman orangtua pihak perempuan
yang saat itu menjabat sebagai Bupati Ngawi (Jawa Timur), Bp.
Bambang Soebijantoro Karto Koesoemo.
Setelah berkeluarga, Pak Wir mendapat tawaran
bekerja sebagai tenaga pengajar di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA), Malang. Karena
pihak Sekolah juga menyediakan fasilitas rumah dinas maka Pak Wir dan istri kemudian
tinggal di komplek perumahan dinas sekolah ini (daerah Tanjung, Jl. Ichwan Ridwan Rais,
Malang). Berpuluh tahun mengajar di Sekolah ini, Pak Wir dikenal oleh para siswanya
sebagai salah seorang guru yang tegas dan disiplin.
Pada 1981, Pak Wir mendapat kepercayaan
dari instansi tempatnya bekerja untuk tugas belajar ke Sam Houston State University, AS
dan alhamdulilLah berhasil menyelesaikannya dengan meraih gelar Master Pendidikan (MEd)
dalam tempo satu tahun. Karena prestasi akademisnya juga dinyatakan baik, beliau ditawarkan untuk
meneruskan ke jenjang Doktoral, namun karena merasa sulit berpisah lama dengan keluarga,
akhirnya beliau kembali
ke Tanah Air.
Setelah kembali ke Indonesia, Pak Wir kemudian
diangkat menjadi Kepala Sekolah SNAKMA, lalu Ketua APP (Peternakan) Malang, hingga
terakhir sebagai Widyaiswara Utama (pada
saat pensiun dengan golongan IV/E).
Pada pertengahan 2001, Pak Wir sakit parah
hingga sempat tidak sadarkan diri dan segera dilarikan ke Rumah Sakit di Jakarta. Dari
hasil diagnosis medis, dinyatakan bahwa beliau mengalami GGK dan harus menjalani opname
serta HD. Sejak itu kondisi fisiknya mulai berangsur-angsur menurun, namun demikian
semangatnya untuk tetap beribadah dan berkarya tetap tinggi. Pada setiap lewat tengah
malam, walaupun sedang sangat capek maupun sakit, Pak Wir selalu konsisten melaksanakan
sholat malam/tahajud. Sebagai Widyaiswara, beliau selain mengajar juga banyak membuat
tulisan yang berkaitan dengan bidang yang diajarkan. Buku terakhir yang diselesaikan dan
dicetak khusus adalah sebuah Orasi Ilmiah tentang "Manajemen Pengembangan Pelayanan
Masyarakat Dalam Rangka Mewujudkan Good Governance".
Satu hari setelah menerima hasil cetakan buku
Orasi Ilmiah tsb, kesehatan Pak Wir mulai memburuk, hingga puncaknya pada Senin siang, 26
April 2004, beliau mulai tidak sadar lagi dan segera dibawa ke Rumah Sakit di Jakarta. Setelah
menjalani perawatan intensif di UGD selama sepuluh hari, pada 5 Mei 2004 pk.
12.15 bada Dhuhur, atau sehari setelah hari ulangtahunnya dan dua hari setelah
Maulud Nabi Muhammad SAW, Pak Wir berpulang memenuhi panggilan Sang
Maha Pemilik, diiringi wangi lembut semerbak yang tiba-tiba muncul memenuhi ruangan. Teladan yang ditinggalkan adalah dalam
hal kedisiplinan, konsistensi, kesetiaan dan tanggungjawab yang tinggi pada keluarga,
pekerjaan serta terutama sebagai hamba Allah yang senantiasa berusaha memenuhi
kewajibannya. Dialog terakhir yang disampaikan kepada keluarga, sebelum kemudian sama
sekali tidak sadar beberapa saat sebelum berpulangnya adalah keinginan untuk berwudhu
karena mau sholat. Beberapa menit kemudian beliau mengatakan bahwa baru saja melakukan
sholat jamaah bersama 30 orang.
:: belasungkawa
::


sebelumnya | awal |
berikutnya |