PANAKAWAN
Oleh: Sunan Kalijogo

Semar, nama tokoh ini berasal dari bahasa arab Ismar. Dalam lidah jawa kata Is- biasanya dibaca Se-. Contohnya seperti
Istambul menjadi Setambul. Ismar berarti paku. Tokoh ini dijadikan
pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada atau sebagai advicer dalam mencari kebenaran terhadap
segala masalah. Agama adalah pengokoh/pedoman hidup manusia. Semar dengan demikian juga adalah
simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.
Nala Gareng, juga diadaptasi dari
kata arab Naala Qariin. Dalam pengucapan lidah jawa, kata Naala Qariin menjadi Nala Gareng. Kata ini berarti memperoleh banyak teman, ini sesuai dengan
dakwah para aulia sebagai juru
dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya teman (umat) agar kembali ke jalan Allah SWT
dengan sikap arif dan harapan yang baik.
Petruk, diadaptasi dari kata
Fatruk. Kata ini merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan (petuah) tasawuf yang berbunyi: Fat-ruk kulla maa siwalLaahi, yang
artinya: tinggalkan semua apapun yang selain
Allah. Wejangan tersebut kemudian
menjadi watak para aulia dan mubaligh pada waktu itu. Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong artinya kantong yang berlubang.
Maknanya bahwa, setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya
kepada Allah SWT secara ikhlas, seperti berlubangnya kantong yang tanpa penghalang.
Bagong, berasal dari kata Baghaa
yang berarti berontak. Yaitu berontak
terhadap kebathilan dan keangkaramurkaan. Si
Bayangan Semar ini karakternya lancang dan suka berlagak bodoh.
Secara umum, Panakawan melambangkan orang
kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penghibur, kritisi
sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Para tokoh panakawan juga berfungsi
sebagai pamomong (pengasuh) untuk tokoh wayang lainnya. Pada dasarnya setiap manusia
umumnya memerlukan pamomong, mengingat
lemahnya manusia, hidupnya perlu orang lain (makhluk sosial) yang dapat membantunya
mengarahkan atau memberikan saran / pertimbangan. Pamomong
dapat diartikan pula sebagai guru / mursyid terhadap salik yang dalam upaya pencerahan
jati diri.
Karakter Panakawan (selain para tokoh lainnya) dari jalur acuan Walisongo sebenarnya muncul
berdasarkan penuturan Puntadewa / Dharmakusuma (satu-satunya dari Pandawa yang kemudian memeluk
Islam) dan Semar / Ismaya kepada Sunan Kalijaga dalam komunikasi ghaib (yang tidak terbatasi ruang dan waktu) sesama aulia. Dijelaskan juga bahwa
selain Semar, para panakawan yang dinyatakan sebagai anaknya (Gareng, Petruk dan Bagong)
sebenarnya adalah dari bangsa Jin.
Tokoh Panakawan dimainkan dalam sesi
goro-goro. Pada setiap permulaan permainan wayang biasanya tidak ada adegan kekerasan
antara tokoh-tokohnya hingga lakon goro-goro dimainkan. Artinya adalah bahwa jalan
kekerasan adalah alternatif terakhir. Dalam Islam pun, setiap dakwah yang dilakukan harus
menggunakan tahap-tahap yang sama. Lakon goro-goro pun menggambarkan atau membuka semua
kesalahan, dari yang samar-samar menjadi kelihatan jelas sebagaimana sebuah doa: Allahuma arinal haqa-haqa
warzuknat tibaa wa'arinal bathila-bathila warzuknat tinaba, artinya: Ya Allah tunjukilah yang benar kelihatan benar dan
berilah kepadaku kekuatan untuk menjalankannya, dan tunjukillah yang salah kelihatan salah
dan berilah kekuatan kepadaku untuk menghindarinya.


sebelumnya | awal |
berikutnya |