|
SEPTINUS GEORGE SAA
Penemu Rumus
Penghitung Hambatan antara Dua Titik Rangkaian Resistor . . .
Pada pertengahan April
2004, media-media massa di Indonesia tiba-tiba santer memberitakan tentang
Septinus George Sa’a. Pemuda ini telah memenangi lomba “First
Step to Noble Prize in Physics”. Ini adalah lomba bergengsi bagi
siswa sekolah menengah seantero jagad selain Olimpiade Fisika. Kompetisi
yang digagas Waldemar Gorzkowski 10 tahun silam ini mewajibkan pesertanya
melakukan dan menuliskan penelitian apa saja di bidang fisika. Hasil
penelitian tersebut kemudian dikirimkan dalam bahasa Inggris ke juri
Internasional di Polandia. Sementara dalam Olimpiade Fisika para peserta
diwajibkan mengerjakan soal-soal fisika dalam waktu yang sudah ditentukan.
Pada kompetisi "First Step to Nobel Prize in Physics" hasil riset
Septinus George Saa tidak menuai satu bantahan pun dari para juri.
Oge, demikian panggilan
akrabnya, menemukan cara menghitung hambatan antara dua titik rangkaian
resistor tak hingga yang membentuk segitiga dan hexagon. Formula hitungan
yang ia tuangkan dalam papernya "Infinite Triangle and Hexagonal
Lattice Networks of Identical Resistor" itu mengungguli ratusan paper
dari 73 negara yang masuk ke meja juri.
Para juri yang terdiri dari 30 jawara fisika dari 25 negara itu
hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk memutuskan pemuda 17 tahun asal Jayapura
ini menggondol emas.
Paper Oge yang masuk
lewat surat elektronik di hari terakhir lomba itu dinilai orisinil,
kreatif, dan mudah dipahami. Tak berlebihan jika gurunya Profesor Yohanes
Surya mengatakan formula Oge ini selayaknya disebut George Saa Formula.
Kemenangan Oge mengikuti
jejak para genius Indonesia sebelumnya. Lima tahun lalu I Made Agus Wirawan
dari Bali juga meraih emas pada kompetisi serupa.
Oge adalah putera asli
Papua. Tanah kelahirannya, di ujung timur Indonesia, hingga kini tak usai
didera konflik. Lima orang presiden yang datang dan pergi selama 59 tahun
Indonesia merdeka tak pernah berhenti berjanji meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di bumi cendrawasih sana. Tapi janji hanya janji. Kemunculan Oge
di panggung internasional seperti mengingatkan bahwa ada
mutiara-mutiara bersinar yang perlu
mendapat perhatian di kawasan timur Indonesia.
Oge lahir dari keluarga
sederhana. Ayahnya, Silas Saa, adalah Kepala Dinas Kehutanan Teminabuhan,
Sorong. Oge lebih senang menyebut ayahnya petani ketimbang pegawai. Sebab,
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Silas, dibantu isterinya, Nelce
Wofam, dan kelima anak mereka, harus mengolah ladang, menanam umbi-umbian.
Kelima anak Silas mewarisi keenceran otaknya. Silas adalah lulusan Sekolah
Kehutanan Menengah Atas tahun 1969, sebuah jenjang pendidikan yang tinggi
bagi orang Papua kala itu.
Apulena Saa, puteri
sulung Silas, mengikuti jejak ayahnya. Ia adalah Sarjana Kehutanan lulusan Universitas
Cendrawasih. Franky Albert Saa, putera kedua, saat ini tengah menempuh
Program Magister Manajemen pada Universitas Cendrawasih. Yopi Saa, putera
ketiga, adalah mahasiswa kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta.
Agustinus Saa, putera keempat, mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Negeri
Papua, Manokwari. Sementara si Bungsu, Oge, meraih emas di panggung
internasional. "Semua anak mama tidak manja dengan uang, sebab kami
tidak punya uang," tutur mama Nelce usai menemani puteranya menerima
penghargaan dari Departemen Kehutanan, Selasa (22/6/2004), di Departemen
Kehutanan, Jakarta.
Ia bertutur, karena
minimnya ekonomi keluarga, Oge sering tidak masuk sekolah ketika SD hingga
SMP. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 10 km. Oge harus naik
"taksi" (angkutan umum) dengan ongkos Rp 1.500 sekali jalan. Itu
berarti Rp 3.000 pulang pergi. "Tidak bisa jajan. Untuk naik
"taksi" saja mama sering tidak punya uang. Kalau Oge mau makan
harus pulang ke rumah,” katanya.
Oge lahir 22 September
1986. Ia memang pintar sejak kecil. Tidak seperti Einstein yang pernah
tinggal kelas, Oge kecil selalu juara kelas sejak di bangku SD hingga SMP.
Bahkan ketika kelas IV SD gurunya menawari untuk ikut Ebtanas kelas VI.
Namun, mamanya melarang karena saat itu kakaknya, Agustinus Saa, juga duduk
di kelas VI.
Bagi Oge prestasi tidak
selalu berarti karena uang. Pemuda yang dikenal sebagai playmaker di
lapangan basket ini adalah orang yang haus untuk belajar. Selalu ada jalan
untuk orang-orang yang haus seperti Oge. Prestasinya di bidang fisika bukan
semata-mata karena ia menggilai ilmu yang menurut sebagian anak muda rumit
ini.
"Saya tertarik
fisika sejak SMP. Tidak ada yang khusus kenapa saya suka fisika karena pada
dasarnya saya suka belajar saja. Lupakan saja kata fisika, saya suka
belajar semuanya," katanya. "Semua mata pelajaran di sekolah saya
suka kecuali PPKN (Pendidikan Pancasilan dan Kewarganegaraan). Pelajaran
itu membosankan dan terlalu banyak mencatat. Saya suka kimia, sejarah,
geografi, matematika, apalagi bahasa Indonesia. Saya selalu bagus nilai Bahasa
Indonesia," tambahnya.
Selepas SD dan SMP yang
kerap diwarnai bolos sekolah itu, Oge diterima di SMUN 3 Buper Jayapura.
Ini adalah sekolah unggulan milik pemerintah daerah yang menjamin semua
kebutuhan siswa, mulai dari seragam, uang saku, hingga asrama. Kehausan
intelektualnya seperti menemukan oase di sini. Ia mulai mengenal internet.
Dari jagad maya ini ia mendapat macam-macam teori, temuan, dan hasil
penelitian para pakar fisika dunia.
Kebrilianan otak mutiara
hitam dari timur Indonesia ini mulai bersinar ketika pada 2001 ia menjuarai
lomba Olimpiade Kimia tingkat daerah. Karena prestasinya itu, ia mendapat
beasiswa ke Jakarta dari Pemerintah Provinsi Papua. Namun mamanya melarang
putera bungsunya berangkat ke Ibu Kota. Prestasi rupanya membutuhkan
sedikit kenakalan dan kenekatan. Dibantu kakaknya, Frangky, Oge berangkat
diam-diam. Ia baru memberitahu niatnya kepada mama tercinta sesaat sebelum
menaiki tangga pesawat. Mamanya menangis selama dua minggu menyadari
anaknya pergi meninggalkan tanah Papua.
Oge kemudian membuktikan
bahwa kepergiannya bukan sesuatu yang sia-sia. Tangis sedih mamanya
berganti menjadi tangis haru ketika November 2003 ia menduduki peringkat
delapan dari 60 perserta lomba matematika kuantum di India. Prestasinya
memuncak tahun ini dengan menggenggam emas hasil riset fisikanya. Mamanya
pun tidak pernah menangis lagi.
"Saya ingin jadi
ilmuwan. Sebenarnya ilmu itu untuk mempermudah hidup. Ilmu pengetahuan dan
teknologi itu membuat hidup manusia menjadi nyaman. Saya berharap kalau
saya menjadi ilmuwan, saya dapat membuat hidup manusia menjadi lebih
nyaman," kata dia.
Di Jakarta, ia digembleng
khusus oleh Bapak Fisika Indonesia, Profesor Yohanes Surya. Awal November
2006 ia harus mempresentasikan hasil risetnya di depan ilmuwan fisika di
Polandia. Ia harus membuktikan bahwa risetnya tentang hitungan
jaring-jaring resistor itu adalah orisinil gagasannya. Setelah itu, ia akan
mendapat kesempatan belajar riset di Polish Academy of Science di Polandia
selama sebulan di bawah bimbingan fisikawan jempolan.
Sepulang dari Polandia
nanti, Oge sudah memutuskan untuk mengambil studi S1-nya di Indonesia di
Jurusan Fisika Universitas Pelita Harapan. Meski sejumlah tawaran bantuan
terus mengalir kepadanya untuk melanjutkan studi di luar negeri, di
antaranya dari Group Bakrie dan Freeport, Oge merasa belum siap untuk
meninggalkan tanah air. "Nantilah, untuk S2 dan S3 saya ke luar
negeri. Kalau sekarang saya belajar di Amerika, saya belum siap. Saya harus
belajar lagi bahasa. Selain itu, fisika itu kan luas. Ada banyak yang harus
saya pelajari. Harus ada orang yang betul-betul mendampingi saya,"
ujar dia.
Ya, Oge mengaku masih
membutuhkan Yohanes Surya. Ia masih membutuhkan tangan dingin guru
sekaligus sosok yang dikaguminya itu mengasah otaknya. "Dia (Yohanes
Surya) orangnya beriman. Dia ilmuwan
tapi tidak atheis. Dia sangat membantu saya," kata Oge tentang gurunya
itu. (Heru Margianto) --- Sumber: Harian Kompas, 27 Juni 2004.

sebelumnya
| awal | berikutnya
|