|
BismilLahir Rahmanir Rahim,
Assalamu ‘alaykum
warahmatulLahi wabarakatuh,
Berbagai hal dan rangkaian
kejadian di dunia yang menyejarah adalah sedemikian beraneka ragam dan
komplek. Dari yang tak terlihat (karena sedemikian sangat kecil) sampai
yang tak terlihat (karena sedemikian sangat besar) namun sesungguhnya
berjalan dalam satu kesatuan harmoni semesta yang sangat selaras (QS. 50:6-10, QS.
03:05). Hingga
suatu ketika di masa lalu Sang Maha Pencipta beriradah menurunkan mandat
manajerial bumi (khaliifatan fil ardhi) kepada manusia (Nabi Adam a.s
dan keturunannya) (QS. 02:30).
Sebagai
sang terpilih (safiyulLah), manusia yang secara utuh diciptakan dalam kesatuan 4
dimensi: nurani, ruhani, nafsani dan jasmani (ketika hidup
di alam dunia) telah dinyatakan sebagai makhluk sempurna yang sesungguhnya
justru konteksnya bukan dari segi fisiknya (yang fana) namun
terpenting dari itu adalah dengan adanya dimensi nurani, yang tertanam di
dalamnya ‘chip’ makrifatulLah dan hakikat (QS. 05:07, QS
22:32). Yang
karena inilah Allah perintahkan para malaikat (dan Iblis) untuk sujud
kepada ‘Nabi Adam a.s.’(QS. 02:34).
Dengan
‘chip’ ini pula manusia terhubungkan
dalam suatu jalur komunikasi khusus dengan Sang Maha Kuasa. Yang dengan itu
bumi akan berada dalam jaminan pengelolaan yang baik,
QS
28:77 (Al Qashash)
”Wa
ahsin ka maa ahsanalLahu ilaika wa laa tabghil fasaada fil ardhi.
InnalLaaha laa yuhibbul mufsidiin”. Dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat
baik kepadamu, Dan janganlah engkau membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Yang sesuai kedudukannya, pun melebihi makhluk lainnya dalam
segala hal,
QS
27:40 (An Naml)
“Qaalal
ladzii ‘indahuu ‘ilmum minal kitaabi ana aatiika bihiiqabla ay
yartadda ilaika tharfuka ...”. Berkata seorang yang baginya ada ilmu tentang kitab,
“Aku akan mendatangkan (singgasana
kerajaan Saba) kepadamu (Nabi Sulaiman a.s) sebelum matamu
berkedip”.
Dimensi jasmani adalah ‘pakaian terluar’
manusia dalam kehidupan fana yang justru cenderung membuat manusia lemah (dekadensi kualitas kefitrahan) bila berada dalam porsi
dominatif. Dimensi inilah yang membuat manusia merasakan adanya rasa lapar
dan sakit untuk kemudian mendorongnya melakukan sesuatu yang (hanya atau
lebih) berorientasi pada perlindungan dan pemuasan keperluan jasmaninya
tsb. Ketika nafsu (dalam dimensi nafsani) lebih mendominasi maka otak
(pusat syaraf) sebagai salah satu perangkat jasmani adalah yang lebih mudah
dikompromikan daripada hati (persemayaman nurani). Dan ketika dominasi
jasmani (kefanaan) semakin kuat maka hati pun ‘tak
lagi berfungsi’. (QS. 04:155, QS. 21:03)
Para pecinta Allah (dan yang dicintai Allah - QS. 03:31, QS.
05:54) adalah
mereka yang berupaya menjaga kefitriannya. Nurani yang amat sangat
merindukan dan mencintai Allah selalu menjadi dominasi sentral dan
menempatkan periode kefanaannya hanyalah sebagai ‘ilusi
panggung pakelir’ (QS. 57:20), dimana manusia hanyalah ‘wayang-wayang’ yang sekadar mengikuti
kehendak ‘Sang Dalang’ (QS. 03:26). Hal yang baru dapat
dimungkinkan oleh mereka yang jasmaninya telah ‘mati’ oleh hidupnya nurani
keilLahiyahan. WalLahu a’lamu
bil-shawab.
Mohon maaf bilamana ada isi dan penyampaian kumpulan
artikel-artikel berikut ini yang tidak berkenan bagi siapa pun.
JazakumulLahu Khayran Katsiran.


sebelumnya
| awal | berikutnya
|