|
TASIMAH
Kesabaran Penjual Serabi

Pucat mencuat dari wajah keriput Tasimah (62) saat
melihat kedatangan Hendra Setia dari LPM Dompet Dhuafa. Beberapa saat ia
tergagap, tangan tuanya sedikit gemetar. Hendra yang berbadan mungil sempat
membuat nenek sebatangkara ini ciut. Semenit berjalan, senyum Hendra
mengembang dan dari mulut kering Tasimah coba memaksa menyungging senyum.
“Saya kira ujang rentenir
mau nagih utang”, ungkap Tasimah lirih diselingi derai air mata
bahagia. Aura lega tampak menyembul di wajahnya yang menyimpan segudang
masalah.
Tasimah
lemah sebatangkara, tak ada sanak saudara di belantara ibukota yang keras. Setelah
kematian suaminya pada 1984 silam, hidupnya makin tersungkur. Sakit lever
suaminya memaksa rumah yang dibangun dari jerih payahnya di RT 09/11
Kelurahan Gandaria Utara Jakarta Selatan terpaksa dijual.
Sejak itu,
wanita yang taat beribadah dalam jerat kesusahan ini berpindah dari satu
kantong kumuh ke komunitas kumuh lainnya. Berbekal tiga tungku serabi, ia
berjualan kue serabi di pinggir trotoar Jl. Petogogan II Jakarta Selatan.
Dengan penghasilan 15 ribu rupiah per hari, ia musti membagi untuk makan
dan modal. Jika modal ‘termakan’, terpaksa ia tak jualan dan
berganti profesi menjadi pemulung. Tasimah yang tubuhnya bongkok pun
terpaksa memanggul karung untuk memulung, terseok-seok dari satu komplek ke
komplek lainnya.
Walau sudah berupaya, utang makan di warung makin
menumpuk, Tasimah tak mau lari. Kesalehannya melecut batin untuk memeras
peluh melunasi segala utang yang ditanggungnya untuk menyambung hidup. Ia
terpaksa, jika akhirnya terjerat rentenir untuk modal dagang serabi. Rp
600.000,- angka yang membuat dunia Tasimah serasa kiamat. “Saya
terpaksa jang, dan saya tidak
akan lari meninggalkan utang itu, takut di akhirat ditanya Allah...”,
ungkapnya. Hari-hari Tasimah makin tercekik saat semua harga kebutuhan
menanjak. Lagi-lagi Tasimah terengah, berat melangkah ke tangga hidup
selanjutnya. “Hidup ini pilihan, saya berusaha menjalani
semampu jiwa raga saya”, tuturnya.
Beratap
terpal 1 x 1 meter, Tasimah berehat dari lelah dan kantuk. Saat hujan
turun, jangan ditanya pastilah basah kuyup dan dingin menusuk tulang
mendera. Tasimah bergulat dengan batinnya, jika mengingat emperan tempatnya
berbaring ini adalah bekas rumahnya dulu. Ia baru dapat tidur jika tuan
rumah telah mengunci pintu. Dia musti terbangun sebelum tuan rumah bangun
karena tempatnya berbaring pas di emperan rumah itu. Ia sadar diri, tak
ingin membuat pemandangan kumuh dan sebisa mungkin tak melukai perasaan
pemilik rumah.
Tasimah saleh, setiap malam sholat tahajut tiada
tertinggal. Dalam sholatnya ia mengadu, menumpahkan air mata, mencurahkan
keluh kesah hanya kepada Allah SWT. “Allah teman saya, penguat hidup
saya, tempat saya pulang terakhir jang...”,
curahnya lirih.
Tasimah yang sebatangkara ini tak ingin menjadi benalu
masyarakat. Ia ingin berdaya dan berusaha dengan tubuhnya yang makin
bongkok, tetap istiqomah menjadi pedagang serabi. Mimpinya sederhana saja.
Terbebas dari rentenir dan utang. Dapat tinggal di kontrakan yang layak,
beribadah dengan khusyu dan
mengakhiri hidup dengan khusnul
khotimah. [Hendra/Aryo, Republika, 23 Desember 2005].


sebelumnya
| awal | berikutnya
|