|
MARUNI WIWIN DIARTI
Penemu Senyawa
Antimikroba dari Rumput Laut
Seperti halnya makhluk hidup lain di jagat raya ini, sifat
antagonismenya beragam spesies bakteri juga sebuah keniscayaan. Namun
bagaimana sifat penentangan maupun perlawanan antar bakteri itu
“didamaikan” agar bermanfaat bagi orang banyak. Khususnya bagi
dunia kedokteran, bukan hal mudah untuk diwujudkan. Namun, Maruni Wiwin
Diarti (Wiwin) justru tertantang oleh kesulitan itu. Lewat kajiannya, warga
Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB),
ini berhasil menemukan obat anti mikroba dari bakteri rumput laut, kemudian
mendapat Anugerah Teknologi Terapan dari Pemerintah Provinsi NTB, Desember
2003 di Mataram.
Menurut staf pengajar Akademi Analis Kesehatan (AAK)
Mataram ini, adanya antagonisme di antara bakteri laut sudah diketahui.
Namun, sangat sedikit penelitian yang mengeksplorasi keragaman bakteri laut
di Indonesia untuk penemuan bahan baku obat anti mikroba baru. Salah satu
penyebabnya keterbatasan dana untuk kegiatan penelitian itu. Penelitian
awal sudah saya lakukan pada tahun 1999, namun sempat terhenti karena tidak
cukup biaya. Saya kirim proposal penelitian ke Bappeda NTB, tetapi tidak
ada jawaban sebab saat itu sedang terjadi krisis moneter. Penelitian
berjalan lagi pada tahun 2001 dan selesai dua tahun tahun kemudian,”
kata Wiwin menyebut lembaga penyandang dana penelitiannya.
Dia juga dibantu oleh Badan Penelitian dan
Pengembangan Riset Pembinaan Iptek Kedokteran Departemen Kesehatan. Belum
tergalinya potensi laut Indonesia yang luar biasa banyaknya itu menjadi
alasan lain Wiwin melakukan riset. Selain itu, banyak bakteri klinis yang
resistan terhadap beberapa produk anti biotik sehingga perlu dicari sumber
anti biotik baru yang secara finansial dapat dijangkau rakyat kecil. Dari
telusur pustaka, lulusan Fakultas Biologi Universitas Islam Al-Azhar,
Mataram, tahun 1996 ini memilih rumput laut Thalassia hemprichii yang
kemudian diketahui memproduksi senyawa anti bakteri. Lokasi penelitiannya
di Pantai Gerupuk, kawasan wisata Kute, Lombok Tengah, dimana masyarakat
pesisir membudidayakan rumput laut sebagai sumber penghasilan alternatif.
Di tempat ini terdapat 11 jenis bakteri aerob, dan dia
memilih meneliti Thalassia hemprichii. Rumput laut itu diambil bagian akar,
batang, dan daunnya, lalu di masukkan ke dalam kantong plastik steril
berisi air laut, lalu disimpan dalam kotak pendingin untuk uji
laboratorium. Kultur primer rumput laut itu ditanam bagian akar, batang,
dan daunnya pada permukaan lempeng NASW (Nutrient Agar Sea Water)
bertemperatur 20 derajat selama 48 jam. Tiap koloni yang muncul dimurnikan,
diidentifikasi secara konvensional berdasarkan karakteristik morfologi,
biakan, biokimia, dan resistansi antibiotik. Setelah dilakukan pemurnian,
rumput laut yang sudah jadi ekstrak itu diteteskan pada kertas filter
steril dan di lakukan proses uji kadar hambatan minimal. Pada tahap ini
diketahui senyawa hasil pemurnian memiliki aktivitas penghambatan
pertumbuhan bakteri isolat klinis oleh senyawa bio-aktif dengan zona
penghambatan 12 mm - 18 mm, tidak bersifat racun karena sampai dosis
mikrogram per miligram tidak menyebabkan matinya hewan coba, dan potensinya
100 persen bisa menyembuhkan infeksi bakteri. Obat antimikroba dari bahan
baku rumput laut itu bukan penelitian pertama perempuan kelahiran tanggal
15 Januari 1974 di Selong, ibu kota Lombok Timur. Sebelumnya Wiwin meneliti
efek Helicobacter pylori (H pylori), penyebab penyakit lambung gastritis
kronis aktif, dan pengaruh telur ayam terhadap H pylori.
Obat alternatif ini mungkin lebih murah mengingat obat
infeksi lambung yang relatif mahal, kemudian banyak produk obat antibiotik
berbahan kimia resistan terhadap H pylori. Jika bahan baku obat senyawa
aktif biofisik bisa dimanfaatkan, dampak positifnya, antara lain, pada
dunia farmasi dan mengangkat posisi tawar dan nilai jual sumber daya alam
(SDA) Indonesia, seperti rumput laut dan telur ayam, menjadikan pendapatan
petani terdongkrak. Itu memang cita-cita, tetapi yang lebih penting adalah
menggali potensi SDA di Nusantara yang masih tersembunyi itu untuk diteliti
bagi kepentingan orang banyak. Wiwin punya bekal untuk itu. “Saya
suka meneliti yang mikro-mikro sebab selain tertarik, juga basis saya
adalah analis kesehatan,” ujar istri Yunan Jiwintarum yang juga
karyawan di AAK Mataram itu.
“Ini bidang penelitian potensial, namun amat
sedikit orang mau menekuninya, malah yang mengincar potensi darat dan laut
Indonesia adalah pihak asing. Kalau tidak proaktif dan berinisiatif, ya
kita cuma jadi penonton.” tambahnya. Komitmen dan kesukaan seperti
itu ditopang pula oleh lingkungan Wiwin sebab, kecuali mengajar, dia juga
menjadi peneliti pada Unit Riset Biomedik (URB) Rumah Sakit Umum Mataram.
Di sini ada peneliti senior Prof Dr dr Soewignjo Sumohardjo, pakar
gastroentero hepatologi, yang membimbing, memberi dukungan moral dan
material bagi ibu seorang anak itu.
Karena kemudahan yang disediakan itu maka setiap kali
melakukan kegiatan penelitian, Wiwin turun membawa bendera URB Rumah Sakit
Umum Mataram tadi. Wiwin agaknya belum puas dengan hasil yang diraihnya
selama ini. Malah berbagai hal yang acapkali mengganggu kesehatan alat
reproduksi perempuan tidak luput dari perhatiannya. Untuk itu, direncanakan
pada bulan Mei ini dia bersama timnya mulai turun ke lapangan. Dia akan
meneliti pemanfaatan alga untuk uji penapisan anti jamur infeksi kandida
yang menyebabkan kanker mulut rahim pada perempuan. Biaya penelitian itu
disponsori Kementerian Riset dan Teknologi Indonesia yang membantu
pendanaan kegiatan sebesar Rp 40 juta.
--- Sumber: Harian Kompas, 12 Mei 2004.

sebelumnya
| awal | berikutnya
|